Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Saya memandang peristiwa meninggalnya seorang anak berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur ini bukan sebagai persoalan individu, apalagi disederhanakan hanya karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis. Ini adalah persoalan sosial yang jauh lebih dalam dan kompleks.”
“Dalam perspektif sosiologi, kita harus jujur mengakui adanya kemiskinan struktural. Di banyak wilayah, kemiskinan bukan sekadar soal tidak adanya uang, tetapi ketiadaan akses terhadap pendidikan yang ramah, pendampingan psikologis, serta perlindungan anak. Bagi orang dewasa, sepuluh ribu rupiah mungkin terasa kecil, tetapi bagi anak yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, itu dapat dimaknai sebagai kegagalan hidup sejak awal.”
“Saya juga melihat adanya tekanan sosial dan rasa malu yang sangat kuat. Anak-anak kita dibesarkan dalam budaya patuh, takut dimarahi, dan takut mengecewakan orang tua maupun guru. Ketika seorang anak tidak mampu memenuhi tuntutan sekolah, ia bisa memandang dirinya sebagai beban dan aib. Ini bukan cara berpikir orang dewasa, melainkan cara berpikir anak yang hidup dalam tekanan.”
“Sekolah seharusnya menjadi ruang aman, namun realitanya belum semua sekolah sensitif terhadap kondisi ekonomi dan psikologis murid. Tidak semua pendidik dibekali kemampuan membaca tanda-tanda tekanan mental pada anak. Ini menjadi catatan penting bagi sistem pendidikan kita.”
“Dari sisi psikologi perkembangan, anak usia 10 tahun belum matang secara emosional. Mereka belum mampu melihat masa depan secara panjang. Masalah hari ini dapat mereka rasakan sebagai kehancuran hidup selamanya. Anak pada usia ini juga cenderung menyalahkan dirinya sendiri—merasa bodoh, gagal, dan tidak berguna—padahal kemiskinan bukanlah kesalahan anak, melainkan kegagalan sistem yang belum hadir secara utuh.”
“Kita juga harus memahami bahwa anak-anak sangat sensitif terhadap nada suara, ekspresi wajah, dan reaksi orang dewasa. Bahkan tanpa kekerasan verbal, rasa kecewa atau ancaman hukuman bisa tertanam dalam batin anak sebagai perasaan tidak layak untuk hidup.”
“Lebih jauh lagi, anak usia 10 tahun belum memahami bahwa kematian bersifat permanen. Banyak anak mengira kematian hanyalah tidur, menghilang sementara, atau cara agar kemarahan orang dewasa berhenti. Ini bukan keputusan rasional, melainkan kesalahpahaman yang sangat berbahaya.”
“Oleh karena itu saya tegaskan, peristiwa ini bukan karena anak tersebut lemah, bukan karena manja, dan bukan semata karena uang sepuluh ribu rupiah. Ini adalah akibat dari kemiskinan ekstrem, tekanan sosial, minimnya perlindungan kesehatan mental anak, serta kurangnya kepekaan sistem terhadap kondisi nyata yang dihadapi anak-anak kita.”
“Kasus ini bukan tragedi pribadi, melainkan tragedi sosial. Anak itu bukan memilih kematian, tetapi tidak melihat adanya jalan lain. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama—keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara—untuk lebih peka, lebih hadir, dan lebih mendengarkan.”
“Saya percaya, satu sikap peduli, satu ruang aman untuk berbicara, dan satu orang dewasa yang mau mendengarkan dengan tulus, bisa menyelamatkan nyawa seorang anak.”