
BaladPandawa. com – Jumat, 20 Juni 2025 – 01:00 WIB
TEHERAN – Media The Times of Israel melaporkan bahwa Iran telah meluncurkan sekitar 30 rudal balistik ke wilayah Israel pada Kamis pagi, 19 Juni 2025, menurut penilaian militer Israel. Serangan tersebut terjadi sebagai balasan atas serangan udara Israel yang sebelumnya menghantam reaktor nuklir Arak di Iran.
Akibat serangan tersebut, sejumlah wilayah di Israel dilaporkan mengalami kerusakan berat, termasuk Tel Aviv. Sistem pertahanan udara Israel dikabarkan kewalahan menghadapi serangan rudal masif dari Iran.
Menurut laporan The Associated Press, Pusat Medis Soroka di Be’er Sheva—rumah sakit utama dengan lebih dari 1.000 tempat tidur dan melayani hampir satu juta penduduk di wilayah selatan Israel—mengalami kerusakan. Beberapa bagian rumah sakit rusak, dan ruang gawat darurat menampung puluhan korban luka ringan. Gambar-gambar yang disiarkan media Israel menunjukkan jendela-jendela pecah serta asap tebal hitam membumbung dari lokasi tersebut.
Selain itu, salah satu rudal Iran dilaporkan menghantam sebuah gedung tinggi serta beberapa blok permukiman di sekitar Tel Aviv. Layanan penyelamatan Magen David Adom mencatat sedikitnya 40 orang terluka dalam serangan tersebut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang sebelumnya menghadapi kritik tajam atas kebijakan Israel di Gaza, menyatakan bahwa Iran akan “membayar harga penuh” atas serangan rudal tersebut, terutama setelah satu rumah sakit menjadi sasaran.
Di tengah kekacauan tersebut, Kementerian Luar Negeri Lithuania melaporkan bahwa Kedutaan Besar mereka di Israel tidak mengalami kerusakan meskipun serangan rudal menghantam area Ramat Gan, sekitar 200 meter dari gedung kedutaan. Duta Besar Lithuania memastikan seluruh staf dalam kondisi selamat.
Sebagai balasan, militer Israel mengonfirmasi telah melancarkan serangan udara terhadap puluhan target di seluruh Iran pada malam hari, termasuk reaktor nuklir air berat di Arak. Militer menyebut bahwa serangan secara khusus menargetkan “struktur inti segel reaktor” yang merupakan komponen penting dalam proses produksi plutonium.
Israel juga mengklaim telah menghantam fasilitas lain di Natanz yang diyakini sebagai lokasi pengembangan senjata nuklir serta sejumlah pabrik yang memproduksi komponen rudal balistik.

Reaktor air berat Arak, yang berlokasi sekitar 190 km barat daya Teheran, mulai dibangun pada awal 2000-an sebagai bagian dari program nuklir Iran. Lokasi ini terdiri dari pabrik produksi air berat dan reaktor IR-40 berkapasitas termal 40MW.
Reaktor tersebut dirancang untuk memungkinkan penelitian, produksi isotop, serta menghasilkan plutonium sebagai produk sampingan. Kekhawatiran internasional pun bermunculan sejak awal pembangunan, dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, dan Amerika Serikat secara konsisten menyuarakan kekhawatiran bahwa fasilitas ini dapat digunakan Iran untuk memproduksi senjata nuklir.
Dalam kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tahun 2015, Iran berkomitmen untuk merancang ulang dan mengalihkan fungsi reaktor Arak demi tujuan damai serta membatasi produksi plutonium, di bawah pengawasan ketat dan ketentuan penjualan air berat.
(KYM)




