Kabupaten Bandung kembali diguncang oleh peristiwa yang memprihatinkan. Salah satu bangunan di kawasan Pasar Sehat Soreang dilaporkan ambruk secara tiba-tiba pada Senin 16-04-2026, di tengah aktivitas perdagangan yang sedang berlangsung. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan kepanikan di kalangan pedagang dan pengunjung, tetapi juga mengakibatkan satu orang dilaporkan meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan material bangunan.
Insiden tersebut segera memicu pertanyaan serius, kecurigaan publik, serta kemarahan masyarakat luas. Pasalnya, bangunan pasar tersebut baru saja selesai menjalani program revitalisasi besar-besaran sekitar enam bulan yang lalu, tepatnya pada Agustus 2025. Proyek revitalisasi tersebut diketahui menelan anggaran hingga miliaran rupiah yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bandung serta dukungan pendanaan dari pemerintah provinsi.
Dengan besarnya nilai anggaran yang digunakan, publik kini mempertanyakan efektivitas sistem pengawasan terhadap kualitas material, proses pembangunan, serta standar teknis konstruksi yang diterapkan. Fakta bahwa bangunan tersebut ambruk dalam waktu yang relatif singkat setelah proses revitalisasi selesai menimbulkan dugaan kuat adanya ketidaksesuaian antara spesifikasi teknis yang direncanakan dengan implementasi di lapangan.
Secara akademis, kegagalan konstruksi dalam kurun waktu yang sangat singkat setelah proyek selesai merupakan indikator yang patut diduga sebagai bentuk kegagalan sistemik, baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan konstruksi, maupun pengawasan proyek. Dalam kajian teknik sipil dan tata kelola pembangunan, kegagalan bangunan yang terjadi sebelum mencapai umur rencana konstruksi umumnya mengindikasikan adanya potensi pelanggaran terhadap standar mutu material, kesalahan desain struktural, atau lemahnya pengendalian kualitas (quality control) dalam proses pembangunan.
Ironisnya, proyek revitalisasi Pasar Sehat Soreang sebelumnya dipromosikan sebagai upaya modernisasi pasar tradisional dengan fasilitas yang lebih lengkap, standar nasional, serta konstruksi yang diklaim memiliki ketahanan terhadap gempa. Klaim tersebut kini dipertanyakan secara serius oleh masyarakat, mengingat realitas di lapangan justru menunjukkan kerentanan struktur bangunan yang berujung pada jatuhnya korban jiwa.
Aktivis Forum Balad Pandawa, Kang Yadi Mulyadi, menyampaikan kritik keras terhadap peristiwa ini. Ia menilai ambruknya bangunan pasar yang baru direvitalisasi merupakan indikasi serius adanya kegagalan tata kelola proyek publik.
Menurut Kang Yadi Mulyadi, peristiwa ini tidak boleh dipandang sebagai sekadar kecelakaan konstruksi biasa, melainkan harus ditelusuri secara mendalam sebagai potensi kegagalan sistem pengawasan pembangunan yang menggunakan uang rakyat.
“Bangunan yang baru selesai direvitalisasi sekitar enam bulan lalu tidak seharusnya mengalami keruntuhan, apalagi sampai menimbulkan korban jiwa. Secara rasional dan akademis, ini merupakan indikasi kuat adanya masalah dalam kualitas konstruksi, mulai dari perencanaan, pemilihan material, hingga pengawasan proyek,” tegas Kang Yadi Mulyadi.
Ia juga menambahkan bahwa penggunaan anggaran publik dalam jumlah besar harus disertai dengan akuntabilitas yang tinggi serta transparansi dalam setiap tahapan proyek. Oleh karena itu, menurutnya, aparat penegak hukum serta lembaga pengawas harus segera melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan apakah terdapat kelalaian, penyimpangan, atau bahkan potensi praktik korupsi dalam proyek revitalisasi tersebut.
“Jika proyek bernilai miliaran rupiah ini gagal dalam waktu singkat, maka publik berhak mengetahui siapa yang bertanggung jawab. Ini bukan sekadar persoalan teknis bangunan, tetapi menyangkut keselamatan masyarakat dan integritas pengelolaan anggaran negara,” lanjutnya.
Kang Yadi juga menekankan pentingnya audit konstruksi independen terhadap proyek-proyek infrastruktur publik di Kabupaten Bandung agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
Peristiwa ini menjadi pengingat serius bahwa pembangunan infrastruktur publik tidak boleh hanya berorientasi pada penyerapan anggaran, tetapi harus menjamin kualitas, keselamatan, serta keberlanjutan fungsi bangunan bagi masyarakat.
Hingga saat ini, masyarakat masih menunggu penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab ambruknya bangunan tersebut, sekaligus langkah konkret yang akan diambil untuk memastikan adanya pertanggungjawaban atas tragedi yang telah merenggut nyawa tersebut.
“Kang Yadi Mulyadi Soroti Ambruknya Pasar Sehat Soreang: Proyek Miliaran Rupiah Diduga Gagal Konstruksi”
Scroll Untuk Lanjut Membaca
Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini



